500 Rumah Modular Tahan Gempa Disiapkan untuk Korban Bencana NTT

2026-09-05 13:03:25

2026-09-05 13:03:25

500 Rumah Modular Tahan Gempa Disiapkan untuk Korban Bencana NTT

Pemulihan tempat tinggal bagi masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki tahap penting. Sebanyak 500 hunian tetap akan dibangun untuk warga yang rumahnya hancur akibat gempa pada 15 Agustus 2026. Rumah tapak tersebut menggunakan sistem modular berteknologi Rumah Instan Sederhana Sehat atau Risha.

Program ini bukan sekadar mengganti bangunan yang rusak. Pemilihan struktur yang telah teruji tahan gempa menunjukkan bahwa aspek ketahanan menjadi bagian utama dalam penyediaan rumah pascabencana. Seluruh unit akan diberikan secara gratis kepada korban.

Hunian Tetap Berupa Rumah Tapak Tipe 36

Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fitrah Nur, menjelaskan bahwa hunian tetap tersebut berbentuk rumah modular. Setiap unit merupakan rumah tapak tipe 36 dengan luas bangunan 36 meter persegi.

Teknologi Risha dipilih karena memang dirancang untuk menghadapi risiko gempa. Pemerintah berharap struktur tersebut dapat membantu mengurangi dampak terhadap penghuni apabila gempa kembali terjadi pada masa mendatang.

Jumlah 500 unit menggambarkan dua kebutuhan yang harus berjalan bersama dalam penanganan bencana: pembangunan dalam skala besar dan penerapan spesifikasi struktur yang sesuai dengan kondisi rawan gempa. Dalam konteks ini, kecepatan pembangunan tidak berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan tujuan menyediakan hunian yang sederhana dan layak ditempati.

Cara Kerja Teknologi Risha

Berdasarkan informasi dari situs resmi Pekerjaan Umum yang dikutip sumber, Risha merupakan sistem struktur pracetak. Komponen bangunan terlebih dahulu dibuat di workshop, bukan seluruhnya dikerjakan sejak awal di lokasi pembangunan.

Panel-panel rumah menggunakan beton sederhana dan ringan. Setelah proses pencetakan selesai, komponen dibawa ke lapangan untuk dirangkai menjadi bangunan utuh. Metode ini membuat pelaksanaan pembangunan lebih cepat dan mudah dibandingkan proses yang mengandalkan seluruh pekerjaan struktur di lokasi.

Perakitan juga tidak memerlukan alat berat. Sebuah rumah tipe 36 dapat dirakit dalam waktu 2 kali 9 jam oleh tiga hingga empat pekerja terampil. Keterangan tersebut memperlihatkan pentingnya sistem komponen yang terukur sekaligus tenaga yang memahami proses pemasangannya.

Selain mudah dilaksanakan, sistem Risha didesain sebagai hunian sederhana, layak huni, dan memiliki struktur yang telah teruji tahan gempa. Karakter inilah yang membuatnya digunakan untuk kebutuhan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana di NTT.

Pendanaan Swasta dan Renovasi 1.000 Rumah

Pembangunan 500 hunian tetap tersebut didanai oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan bahwa bantuan pembangunan rumah berasal dari dana swasta yayasan tersebut.

Penanganan hunian tidak berhenti pada pembangunan unit baru. Sebanyak 1.000 rumah lainnya akan direnovasi melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yang juga dikenal sebagai program bedah rumah.

Maruarar juga menyatakan akan menambahkan dana pribadi sebesar Rp5 miliar untuk mendukung renovasi itu. Nilainya setara Rp5 juta bagi masing-masing kepala keluarga apabila dialokasikan kepada 1.000 rumah sebagaimana disebutkan dalam sumber. Persiapan bantuan tersebut, menurut keterangannya, telah dilakukan sejak dua minggu sebelumnya.

Dengan demikian, terdapat dua bentuk penanganan yang berbeda. Warga yang kehilangan rumah akan memperoleh hunian tetap baru, sedangkan rumah yang masih dapat ditangani masuk dalam skema renovasi. Pembagian tersebut mencerminkan kebutuhan pemulihan yang tidak selalu sama pada setiap bangunan terdampak.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli Rumah dan Investor

Kabar dari NTT memberi sudut pandang praktis bagi masyarakat yang sedang menilai sebuah hunian. Spesifikasi rumah sebaiknya tidak hanya dibaca dari luas bangunan. Sistem struktur, jenis komponen, cara pemasangan, dan keterampilan pekerja juga layak menjadi bahan pertanyaan sebelum mengambil keputusan properti.

Teknologi Risha dalam program ini memperlihatkan bagaimana metode pracetak dapat mempersingkat tahap perakitan tanpa mengabaikan tujuan ketahanan gempa. Namun, informasi waktu perakitan perlu dipahami secara tepat: angka 2 kali 9 jam pada sumber merujuk pada proses merakit rumah tipe 36 oleh tiga sampai empat pekerja terampil, bukan penjelasan mengenai seluruh rangkaian pengadaan maupun penyelesaian kawasan.

Bagi investor, berita ini juga menjadi pengingat untuk memisahkan penilaian fisik bangunan dari asumsi nilai investasi. Sumber hanya menjelaskan spesifikasi, jumlah bantuan, metode pembangunan, dan pendanaan program; tidak ada data harga pasar, hasil investasi, maupun kenaikan nilai properti. Karena itu, kesimpulan finansial tidak dapat ditarik dari program hunian pascabencana ini.

Untuk kebutuhan hunian pribadi, pembeli dapat menggunakan pendekatan serupa dengan menelaah luas bangunan, teknologi struktur, serta proses pengerjaan secara bersamaan. Bila Anda sedang mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat, kunjungi MeruyaLand untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kebutuhan tempat tinggal Anda.

Sumber Informasi

detikProperti — Rumah Instan Tahan Gempa, Ini Spesifikasi Huntap buat Korban Bencana NTT

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner