Desa Adat Sade Direkonstruksi, Arsitektur Tradisional Sasak Tetap Dipertahankan

2026-08-25 13:01:12

2026-08-25 13:01:12

Desa Adat Sade Direkonstruksi, Arsitektur Tradisional Sasak Tetap Dipertahankan

Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade di Rembitan, Lombok Tengah, tidak hanya menghancurkan tempat tinggal. Peristiwa pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, juga berdampak pada fasilitas adat, ruang usaha warga, dan bagian penting dari lingkungan budaya Sasak yang telah dipertahankan selama ratusan tahun.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat kini menyiapkan revitalisasi kawasan tersebut. Pembangunan kembali direncanakan dari awal, tetapi rumah-rumah yang terbakar tidak akan begitu saja diganti dengan bangunan modern. Rekonstruksi akan diarahkan untuk mempertahankan arsitektur tradisional dan identitas Desa Adat Sade.

Pendataan Menjadi Dasar Rekonstruksi Desa Adat Sade

Tahap awal penanganan difokuskan pada pendataan menyeluruh. Pemerintah akan memeriksa kepemilikan lahan, bangunan yang terdampak, kebutuhan setiap keluarga, ukuran rumah, serta peninggalan budaya yang ada sebelum kebakaran.

Pendataan ulang diperlukan karena angka dampak kebakaran masih berubah. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sebelumnya mencatat 75 rumah hangus, setelah sempat disebut berjumlah 129 rumah. Kebakaran juga menghanguskan 69 toko seni milik warga. Masjid, berugak, satu lumbung beratap alang-alang, dan sejumlah fasilitas adat maupun fasilitas umum turut terdampak.

Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi NTB Lalu Muh Faozal mengatakan pendataan akan dilakukan berdasarkan nama dan alamat. Pemerintah desa bersama Pemkab Lombok Tengah menjalankan proses tersebut karena hingga hari kedua setelah kebakaran, Pemprov NTB belum menerima angka pasti mengenai rumah dan warga terdampak.

Bagi proses pembangunan kembali, data rinci seperti ini menjadi bagian penting untuk menghindari kekeliruan penentuan hak dan kebutuhan. Dalam kasus Sade, acuannya bukan hanya kondisi fisik setelah kebakaran, tetapi juga riwayat kepemilikan serta bentuk kawasan sebelum musibah.

Rumah Tradisional Tidak Diganti Bangunan Modern

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan menjelaskan bahwa Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal telah mengarahkan agar revitalisasi tidak mengabaikan nilai budaya Sasak. Karena Sade merupakan situs kebudayaan, penyusunan desain harus memperhatikan keaslian kawasan dan informasi yang berasal dari masyarakat.

Rumah warga yang ludes tidak akan diseragamkan secara kaku. Tata ruangnya akan mengacu pada riset arsitektur serta arahan tokoh adat setempat. Pemerintah menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses, mulai dari pendataan dan penyusunan desain hingga pelaksanaan rekonstruksi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan permukiman adat memiliki kebutuhan berbeda dari pembangunan perumahan biasa. Bangunan di Sade bukan sekadar struktur tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas dan ekosistem budaya. Di kawasan itu, warga juga mengelola kegiatan pariwisata dan kebudayaan secara mandiri.

Rekonstruksi Melibatkan Pemerintah, Tokoh Adat, dan Warga

Penanganan Desa Adat Sade akan melibatkan Pemkab Lombok Tengah, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, tokoh adat, dan warga setempat. Pengerjaan teknis direncanakan bersama Dinas PUPRPKP agar kawasan dapat ditata lebih baik tanpa merusak keasliannya.

Pemprov NTB menyatakan proses rekonstruksi harus berjalan adil, transparan, dan mengikuti data historis kepemilikan masyarakat. Keterlibatan banyak pihak diperlukan karena keputusan mengenai bentuk rumah dan susunan kawasan berkaitan langsung dengan tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

Namun, skema pembiayaan belum ditetapkan. Ihwan berharap biaya rekonstruksi kawasan budaya tersebut dapat ditanggung pemerintah pusat. Bantuan juga disebut datang dari lembaga donor dan masyarakat, sedangkan Kementerian Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dinilai memiliki peran kunci dalam kelanjutan rekonstruksi.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli Rumah dan Investor

Peristiwa di Sade memberi gambaran bahwa penilaian sebuah kawasan tidak cukup hanya melihat kondisi bangunan. Status lahan, catatan kepemilikan, ukuran bangunan, tata ruang, fungsi lingkungan, dan karakter setempat dapat menentukan arah pemulihan ketika terjadi kerusakan besar.

Bagi pembeli rumah di Indonesia, proses pendataan yang dilakukan pemerintah di Sade dapat menjadi pengingat praktis untuk memastikan dokumen kepemilikan dan informasi fisik hunian tersimpan dengan baik. Sementara bagi investor, fungsi ekonomi sebuah kawasan perlu dipahami bersama fungsi sosial dan budayanya. Di Sade, hilangnya rumah berlangsung bersamaan dengan terdampaknya toko seni dan fasilitas komunal.

Rekonstruksi ini juga memperlihatkan pentingnya membedakan penataan kawasan dari penyeragaman bangunan. Keteraturan tetap dapat direncanakan, tetapi desainnya perlu membaca identitas dan kebutuhan masyarakat yang menempati kawasan tersebut.

Untuk pencarian hunian masa kini, pembaca dapat menerapkan ketelitian serupa dengan menilai dokumen, tata ruang, kebutuhan keluarga, dan karakter lingkungan secara menyeluruh. Jika sedang mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat, kunjungi MeruyaLand untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kebutuhan tempat tinggal Anda.

Sumber Informasi

detikProperti — Usai Kebakaran Hebat, Desa Adat Sade Akan Dibangun Kembali dari Nol

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner