Penthouse Dekat Kedutaan Israel Dijual, Harga Salah Satu Unit Turun Rp165 Miliar

2026-09-09 13:01:18

2026-09-09 13:01:18

Penthouse Dekat Kedutaan Israel Dijual, Harga Salah Satu Unit Turun Rp165 Miliar

Dua penthouse mewah di kawasan Kensington, London, kembali menjadi perhatian setelah dipasarkan untuk dijual. Properti tersebut dikabarkan berkaitan dengan pemimpin Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, tetapi sejak awal tidak tercatat atas namanya. Selain riwayat kepemilikan yang rumit, lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Kedutaan Besar Israel di Inggris.

Penjualan itu juga memperlihatkan perubahan nilai yang besar. Salah satu unit, yang dibeli senilai US$25,6 juta atau sekitar Rp449 miliar pada 2016, kini ditawarkan sekitar US$16,2 juta atau Rp284 miliar. Dengan kurs Rp17.562 yang digunakan dalam sumber, selisih antara harga pembelian dan harga jualnya mencapai sekitar Rp165 miliar.

Penjualan Berkaitan dengan Sanksi dan Persoalan Utang

Menurut laporan Sunday Times yang dikutip sumber, apartemen-apartemen tersebut dijual setelah bankir Iran Ali Ansari dikenai sanksi. Ansari, yang dituduh sebagai kaki tangan Khamenei, juga dikabarkan gagal membayar utang sehingga pemerintah Inggris memutuskan bahwa properti itu harus dijual.

Unit lainnya tercatat dibeli pada 2014 dengan harga US$22,6 juta atau sekitar Rp396 miliar. Namun, harga jual terbarunya tidak diketahui karena tidak tersedia pencatatan publik. Kedua transaksi pembelian berlangsung melalui sejumlah perantara pada 2014 dan 2016, bukan langsung menggunakan nama pemimpin Iran tersebut.

Investigasi Bloomberg yang kemudian dikutip media Inggris menyebut beberapa aset yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei mengarah kepada Ansari dan beberapa lapisan perusahaan cangkang. Rangkaian entitas semacam ini membuat hubungan antara properti, pemilik yang tercatat, dan pihak yang diduga memperoleh manfaat menjadi bagian penting dari perkara tersebut.

Ali Ansari Membantah Hubungan dengan Khamenei

Ansari menghadapi persoalan hukum di Inggris dan Amerika Serikat. Inggris menjatuhkan sanksi kepadanya pada Oktober 2025 atas dugaan keterlibatan dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Otoritas Inggris menyebutnya sebagai bankir dan pengusaha Iran yang korup serta menuduhnya memfasilitasi dan mendukung aktivitas permusuhan.

Departemen Keuangan Amerika Serikat turut menuduh Ansari menggunakan properti dan aset komersial di luar negeri untuk menguntungkan Khamenei, kalangan elite Iran lainnya, serta IRGC. Ansari membantah mempunyai hubungan finansial maupun pribadi dengan Khamenei atau IRGC. Ia juga menolak sanksi yang dijatuhkan terhadap dirinya.

Perbedaan antara tuduhan otoritas dan bantahan Ansari perlu dipertahankan secara jelas. Informasi dalam laporan ini menunjukkan adanya penyelidikan, sanksi, dan dugaan hubungan aset, bukan pengakuan dari pihak yang dituduh.

Lokasi Penthouse Memicu Perhatian Keamanan

Kedua penthouse berada di lantai enam dan tujuh sebuah gedung di Palace Green, Kensington, jalan yang sama dengan Kedutaan Besar Israel. Dari unit tersebut, penghuni dapat melihat bagian belakang kompleks kedutaan. Kedekatan inilah yang membuat kepemilikan properti itu menarik perhatian dan mendorong penyelidikan Inggris atas dugaan operasi Iran di kawasan tersebut.

Pakar terorisme dan keamanan Roger Macmillan mengatakan kepada Daily Mail pada Maret 2026 bahwa posisi apartemen berpotensi digunakan untuk memantau dan memotret staf maupun pengunjung kedutaan. Menurutnya, lokasi itu juga berpotensi mendukung perekaman percakapan di luar ruangan, pemantauan getaran jendela dengan bantuan laser untuk memperoleh suara dari dalam, serta upaya meretas jaringan nirkabel kedutaan guna memantau lalu lintas internet.

Pada bulan yang sama ketika Mojtaba Khamenei naik menjadi pemimpin baru, pengadilan Inggris menghadirkan dua pria yang diduga mengawasi Kedutaan Besar Israel, konsulat Israel, dan lembaga-lembaga Yahudi di London untuk Iran. Meski demikian, laporan yang menjadi bahan artikel ini tidak memastikan apakah kedua pria tersebut benar merupakan mata-mata dan tidak menyatakan adanya hubungan langsung dengan penthouse itu.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli dan Investor Properti

Bagi pembeli rumah atau investor Indonesia, kasus ini menegaskan bahwa alamat prestisius dan harga pembelian tinggi tidak otomatis melindungi nilai sebuah properti. Unit pertama dipasarkan jauh di bawah harga ketika dibeli, sementara penjualannya terjadi dalam konteks utang, sanksi, dan sengketa mengenai pihak yang memperoleh manfaat dari aset tersebut.

Riwayat kepemilikan juga patut mendapat perhatian setara dengan kondisi fisik dan lokasi. Pembelian melalui beberapa perantara dan perusahaan cangkang dapat membuat keterkaitan para pihak menjadi sulit dibaca. Karena itu, calon pembeli dapat menjadikan kejelasan pemilik tercatat, jalur transaksi, riwayat harga, dan persoalan hukum yang menyertai aset sebagai bahan utama sebelum mengambil keputusan.

Lokasi pun perlu dinilai lebih luas daripada sekadar akses atau gengsi kawasan. Kedekatan dengan fasilitas diplomatik dalam kasus ini menghadirkan perhatian keamanan yang tidak biasa. Pelajarannya, karakter lingkungan sekitar dapat memengaruhi risiko, privasi, dan persepsi terhadap sebuah hunian.

Untuk kebutuhan tempat tinggal di dalam negeri, pembaca juga dapat mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat dengan menilai legalitas, lingkungan, serta kesesuaian properti secara cermat. Informasi mengenai pilihan hunian dapat ditemukan melalui MeruyaLand.

Sumber Informasi

Detik Properti — Dulu Jadi Sorotan, Penthouse Mojtaba Khamenei Dekat Kedubes Israel Kini Dijual

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner