Genteng Sabut Kelapa BRIN Tawarkan Material Atap Ringan dari Limbah

2026-08-30 13:01:02

2026-08-30 13:01:02

Genteng Sabut Kelapa BRIN Tawarkan Material Atap Ringan dari Limbah

Material atap rumah di Indonesia tidak lagi terbatas pada genteng tanah liat, beton, atau lembaran seng. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan genteng berbahan sabut kelapa, limbah alami yang diolah menjadi lembaran penutup atap ringan. Inovasi ini membuka pembahasan penting tentang pemanfaatan limbah sekaligus kebutuhan material hunian yang lebih sesuai untuk wilayah rawan gempa.

Genteng tersebut berbentuk lembaran tipis berwarna cokelat dengan ukuran 45 x 35 sentimeter. Peneliti BRIN Alvin Muhammad Savero menjelaskan bahwa produk ini dikembangkan oleh Sukma Surya Kusumah dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduct BRIN. Tujuan pengembangannya adalah memanfaatkan sabut kelapa yang selama ini tergolong sebagai limbah.

Bobot Ringan Menjadi Karakter Utama

Salah satu pembeda genteng sabut kelapa dibandingkan material konvensional adalah bobotnya. BRIN membuatnya dalam dua varian, masing-masing berbobot 600 gram dan 800 gram. Keduanya disebut lebih ringan daripada genteng tanah liat.

Karakter tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan rumah tahan gempa. Menurut Alvin, genteng berat dapat menimbulkan risiko ketika jatuh dan menimpa penghuni saat terjadi gempa. Karena itu, tim peneliti mengembangkan genteng yang lebih ringan sebagai salah satu opsi material atap.

Bagi calon pembeli rumah, informasi ini menunjukkan bahwa penilaian sebuah hunian sebaiknya tidak berhenti pada tampilan fasad atau luas ruang. Jenis penutup atap dan bobot materialnya juga layak ditanyakan, khususnya ketika rumah berada di daerah rawan gempa. Namun, bobot ringan dalam bahan sumber ini merupakan karakter genteng, bukan jaminan bahwa seluruh bangunan otomatis tahan terhadap gempa.

Alternatif Seng dengan Karakter Termal Berbeda

Genteng sabut kelapa juga dikembangkan sebagai alternatif lembaran seng untuk penutup atap. Keduanya sama-sama ringan, tetapi bahan sabut kelapa disebut membuat suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk dibandingkan atap berbahan seng.

Aspek tersebut relevan bagi pembeli maupun investor yang sedang menilai kenyamanan sebuah rumah. Material atap berhubungan langsung dengan ruang yang berada di bawahnya, sehingga calon pemilik dapat memasukkan jenis atap ke dalam daftar pemeriksaan sebelum mengambil keputusan. Pertanyaan praktis yang dapat diajukan antara lain bahan yang digunakan, bobot setiap lembar, serta perbedaan kenyamanan ruang dibandingkan material lain.

Meski demikian, genteng ini belum dijual secara bebas. Artinya, keberadaannya saat ini lebih tepat dipahami sebagai hasil pengembangan material oleh BRIN, bukan pilihan yang sudah bisa diperoleh secara umum untuk proyek renovasi atau pembangunan rumah. Ketersediaan menjadi hal mendasar yang perlu dipastikan sebelum material inovatif dimasukkan ke dalam rencana pekerjaan.

Diuji dengan Dibanting dan Diinjak Presiden

Genteng sabut kelapa tersebut sempat menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto. Dalam pengujian yang diberitakan sebelumnya, Prabowo membanting lalu menginjak lembaran genteng untuk melihat kekuatannya. Setelah perlakuan tersebut, bentuk genteng dilaporkan masih terlihat utuh.

Prabowo kemudian menilai kualitasnya baik serta menanyakan potensi produksi massal, termasuk kaitannya dengan program gentengisasi. Peristiwa itu memperlihatkan perhatian terhadap kemungkinan pemanfaatan material, tetapi sumber belum menyatakan bahwa genteng sabut kelapa sudah diproduksi massal atau tersedia di pasar bebas.

Untuk pembeli rumah dan investor, perbedaan antara demonstrasi kekuatan dan ketersediaan komersial perlu dicermati. Hasil uji langsung tersebut memberikan gambaran mengenai ketahanan lembaran ketika dibanting dan diinjak. Namun, keputusan pemakaian pada bangunan tetap memerlukan kejelasan mengenai pasokan material yang nyata.

Riset Limbah untuk Pilihan Material Atap

Sabut kelapa bukan satu-satunya bahan yang sedang diteliti BRIN untuk penutup atap. Lembaga tersebut juga mengembangkan genteng dari anyaman bambu, limbah sorgum, serta limbah tandan kosong kelapa sawit. Kesamaan pendekatan itu terletak pada penggunaan bahan alami atau sisa biomassa sebagai dasar material.

Bagi pasar properti, riset semacam ini menambah bahan pertimbangan ketika membahas rancangan hunian modern. Pembeli dapat semakin teliti membedakan material yang masih dalam tahap pengembangan dengan produk yang telah tersedia luas. Investor pun dapat mencatat bahwa inovasi atap perlu dilihat melalui beberapa aspek yang disebut dalam sumber, yakni bahan baku limbah, bobot, kenyamanan suhu, dan ketersediaannya.

Pada akhirnya, genteng sabut kelapa BRIN memperlihatkan bagaimana limbah dapat diolah menjadi lembaran atap ringan dengan fungsi praktis bagi hunian. Saat mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat, pembaca juga dapat mengunjungi MeruyaLand untuk memperoleh referensi yang relevan dengan kebutuhan tempat tinggalnya.

Sumber Informasi

DetikProperti — Pernah Diinjak Prabowo, Ini Dia Genteng dari Sabut Kelapa Buatan BRIN

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner