Danantara Lanjutkan Pembangunan Apartemen LRT City Mulai 1 Oktober 2026

2026-09-30 13:01:41

2026-09-30 13:01:41

Danantara Lanjutkan Pembangunan Apartemen LRT City Mulai 1 Oktober 2026

Kepastian baru muncul bagi konsumen Apartemen LRT City yang telah menunggu penyelesaian hunian selama bertahun-tahun. Danantara menyatakan pembangunan proyek-proyek tersebut akan dilanjutkan mulai 1 Oktober 2026, disertai rencana menggunakan arsitek baru serta menata kembali sejumlah aspek proyek.

Keputusan ini menjadi perkembangan penting setelah keterlambatan pembangunan memicu keluhan konsumen sejak 2025. Fokus tahap berikutnya bukan hanya menyelesaikan unit apartemen, tetapi juga membenahi kawasan komersial yang menjadi bagian dari proyek.

Pembangunan Dilanjutkan dengan Arsitek Baru

Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengatakan keputusan utama yang telah diambil adalah meneruskan proyek. Danantara akan mencari arsitek baru untuk mengubah fasad serta meninjau desain bisnis dan area komersial.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kelanjutan pembangunan tidak semata-mata mengaktifkan kembali pekerjaan konstruksi. Ada penataan ulang terhadap tampilan bangunan dan konsep bisnis yang menyertainya. Meski demikian, sumber belum memerinci jadwal penyelesaian setiap proyek, tahapan pekerjaan, maupun waktu serah terima unit kepada masing-masing konsumen.

Danantara menargetkan perkembangan awal sudah mulai terlihat pada 1 Oktober 2026, dalam bentuk apa pun. Percepatan pembangunan disebut menjadi fokus karena terdapat tanggung jawab kepada masyarakat yang telah membeli dan menunggu rumahnya. Keputusan melanjutkan proyek juga diklaim telah melalui perhitungan dan mempertimbangkan dampak positif pada masa mendatang.

Keluhan Konsumen Muncul Sejak 2025

Apartemen LRT City dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), anak usaha BUMN PT Adhi Karya Tbk. Tanda-tanda persoalan mulai diketahui konsumen pada 2025 ketika progres pembangunan tidak lagi mendapatkan pembaruan. Saat konsumen mendatangi lokasi, tidak ditemukan pekerja, sementara upaya menghubungi pengembang disebut belum menghasilkan jalan keluar.

Keluhan terutama datang dari konsumen proyek LRT City di Tebet, Cibubur, Ciracas, dan Oase Park. Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian luas pada Juli 2026. Jumlah konsumen terdampak dari berbagai proyek disebut mencapai ratusan orang.

ADCP pernah menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan penyelesaian dan serah terima, khususnya pada proyek Tebet, Ciracas, dan Cibubur. Perusahaan menjelaskan bahwa tekanan likuiditas, restrukturisasi perusahaan, dan langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha ikut memengaruhi kondisi tersebut. Situasi keuangan dan organisasi itu membuat seluruh pembangunan tidak dapat diselesaikan secara bersamaan.

Sebagai respons, ADCP menyusun rencana penyelesaian secara bertahap. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pekerjaan serta memungkinkan proses serah terima kepada konsumen dilakukan lebih cepat, meski rincian urutan proyek dan target waktunya belum dijelaskan dalam sumber.

Dana Rp456 Miliar dan Keterlibatan Sejumlah Lembaga

Setelah persoalan proyek menjadi sorotan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bersama Danantara, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Badan Perlindungan Konsumen Nasional, dan Badan Pemeriksa Keuangan RI turut melakukan mediasi antara konsumen dan pengembang.

Danantara kemudian mengumumkan pendanaan sebesar Rp456 miliar untuk menyelesaikan proyek Apartemen LRT City. Pada saat yang sama, PT Adhi Karya Tbk sebagai induk ADCP diminta tidak menambah anak usaha baru dan kembali memusatkan perhatian pada bisnis konstruksi.

Kombinasi pendanaan, perubahan arsitektur, serta keterlibatan berbagai lembaga memberikan kerangka awal bagi kelanjutan proyek. Namun, ukuran kemajuan yang paling relevan bagi konsumen tetap berupa aktivitas nyata di lokasi, jadwal konstruksi yang dapat dipantau, serta kepastian penyelesaian dan serah terima.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli Rumah dan Investor

Kasus ini memperlihatkan bahwa status proyek yang dikembangkan anak usaha BUMN tidak menghilangkan risiko keterlambatan. Pembeli hunian yang masih dibangun perlu membedakan antara pengumuman kelanjutan proyek dan kepastian tanggal unit selesai. Informasi mengenai pendanaan merupakan perkembangan penting, tetapi realisasi pekerjaan di lapangan tetap perlu diamati.

Sebelum mengambil keputusan pada hunian yang belum selesai, pembeli dapat mencermati pembaruan progres, aktivitas konstruksi, rencana serah terima, dan komunikasi resmi pengembang. Dokumen pembelian dan catatan korespondensi juga penting disimpan agar riwayat kewajiban para pihak tetap jelas apabila muncul keterlambatan.

Bagi investor, tertundanya pembangunan dapat memengaruhi rencana penggunaan unit dan waktu pemanfaatan aset. Karena itu, penilaian tidak cukup bertumpu pada konsep kawasan atau desain yang akan diperbarui. Kemampuan penyelesaian konstruksi, tahapan pengerjaan, dan kejelasan informasi kepada konsumen perlu menjadi bagian dari evaluasi risiko.

Untuk pilihan tempat tinggal, pembaca juga dapat mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta mengunjungi MeruyaLand untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

Sumber Informasi

detikProperti — Lanjutkan Proyek LRT City yang Mangkrak, Danantara Gaet Arsitek Baru

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner