Rumah Tasya Farasya Retak Sebelum Setahun Dihuni, Struktur Bangunan Diperiksa

2026-10-24 13:00:45

2026-10-24 13:00:45

Rumah Tasya Farasya Retak Sebelum Setahun Dihuni, Struktur Bangunan Diperiksa

Belum genap satu tahun ditempati, rumah Tasya Farasya harus kembali dipenuhi pekerja dan suara palu. Beauty creator sekaligus pebisnis tersebut mengungkapkan bahwa banyak retakan muncul pada bangunan yang proses pembangunannya berlangsung selama enam tahun.

Persoalannya bukan sekadar retak pada lapisan akhir dinding. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diceritakan Tasya, ditemukan bagian pertemuan antara kolom dan dinding bata ringan atau hebel yang tidak dilengkapi besi penghubung. Kondisi itu membuat dinding di samping kolom ikut retak, bahkan pada beberapa titik kedua bagian tersebut terpisah.

Temuan itu membuat sebagian dinding harus dibongkar untuk memeriksa struktur bangunan. Perbaikan langsung dilakukan, tetapi Tasya juga menerima laporan bahwa retakan dapat kembali terlihat di lokasi berbeda sehingga rumah tersebut masih memerlukan pengawasan.

Retakan Muncul pada Rumah yang Baru Ditempati

Melalui unggahan Instagram yang dilihat detikcom pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Tasya memperlihatkan suasana rumahnya yang ramai oleh pekerja. Ia mengatakan bangunannya mengalami retak di banyak bagian meskipun usia pemakaiannya belum mencapai satu tahun.

Dalam pemeriksaan, bagian yang seharusnya memiliki besi justru disebut ditemukan menggunakan kayu. Selain itu, sambungan struktur kolom dengan dinding hebel tidak memiliki besi. Dampaknya terlihat pada retakan di sisi kolom dan terpisahnya sejumlah bagian dinding dari kolom tersebut.

Untuk mengetahui kondisi di balik permukaan, pekerja harus menghancurkan bagian dinding. Aktivitas pemeriksaan dan perbaikan inilah yang menimbulkan suara palu sepanjang hari di rumah Tasya. Proses tersebut juga menunjukkan bahwa penanganan tidak berhenti pada menutup jejak retakan yang tampak dari luar.

Area Kolam Renang Turut Mengalami Kerusakan

Masalah bangunan tidak hanya ditemukan pada dinding. Area kolam renang juga mengalami kerusakan berupa penurunan permukaan. Perubahan level itu terlihat karena lantai marmer kini berada di bawah garis cat yang diselesaikan tujuh bulan sebelumnya.

Menurut pihak yang memeriksa rumah, ada dugaan pengerjaan tidak mengikuti standar gambar dari arsitek. Sumber tidak merinci seberapa besar penurunan permukaan maupun seluruh bagian yang terdampak. Namun, perbedaan level pada area kolam menjadi salah satu temuan yang mendorong dilakukannya pengecekan lebih lanjut.

Perbaikan pun segera berjalan setelah pemeriksaan. Meski demikian, Tasya menyebut renovasi kali ini mungkin bukan yang terakhir. Ia memperoleh penjelasan bahwa sesudah satu bagian diperbaiki, retakan berpotensi muncul di tempat lain. Karena itu, perkembangan kondisi rumah masih perlu terus diamati.

Perjalanan Pembangunan Berlangsung Enam Tahun

Rumah tersebut mulai dibangun pada 2020 bersama mantan suami Tasya, Ahmad Assegaf. Keseluruhan proses memakan waktu enam tahun dan disebut tidak berjalan mulus. Setelah keduanya berpisah, pengerjaan rumah dipercepat hingga selesai dalam beberapa bulan.

Bangunan itu terdiri atas empat lantai. Setiap lantainya memiliki pendekatan interior berbeda, termasuk gaya modern French dan modern. Sejumlah perabot dibuat secara khusus, sedangkan salah satu ruangan difungsikan sebagai studio untuk bekerja. Tasya sebelumnya juga beberapa kali memperlihatkan bagian dalam rumah tersebut melalui media sosial.

Kondisi terkini menjadi kontras dengan rumah yang baru selesai dan belum lama dihuni. Waktu pembangunan yang panjang tidak otomatis menghapus kemungkinan ditemukannya persoalan setelah bangunan digunakan. Dalam kasus ini, retakan justru membuka pemeriksaan lebih dalam terhadap hubungan antarelemen bangunan dan kondisi area kolam renang.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli dan Pemilik Rumah

Bagi pembeli rumah maupun investor properti, kasus ini menegaskan pentingnya memperhatikan kondisi fisik setelah hunian mulai digunakan. Retakan yang tampak dapat dicatat berdasarkan lokasi dan perkembangannya, terutama bila muncul di dekat kolom atau disertai bagian dinding yang mulai terpisah. Perubahan level lantai juga layak menjadi perhatian karena pada rumah Tasya, gejala tersebut terlihat dari posisi marmer terhadap garis cat lama.

Pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemewahan interior, jumlah lantai, atau perabot yang dibuat khusus. Temuan pada rumah ini menunjukkan bahwa bagian yang tertutup dinding dapat menjadi pusat persoalan. Dokumentasi gambar arsitek dan hasil pengerjaan juga relevan untuk dibandingkan ketika muncul dugaan ketidaksesuaian.

Dari sudut pandang investor, kebutuhan pembongkaran dan pengawasan berulang merupakan faktor yang patut diperhitungkan dalam menilai kondisi suatu aset. Sumber tidak menyebut biaya perbaikan atau dampaknya terhadap nilai rumah, sehingga keduanya tidak dapat disimpulkan. Hal yang jelas, penanganan berlangsung segera dan pemantauan masih diperlukan karena retakan lain disebut dapat muncul di lokasi berbeda.

Untuk pencari hunian, peristiwa ini dapat menjadi pengingat agar menilai rumah secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan tampilan. Jika sedang mempertimbangkan hunian modern di Jakarta Barat, pembaca juga dapat mengunjungi MeruyaLand untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kebutuhan tempat tinggal.

Sumber Informasi

detikProperti — Tasya Farasya Pusing Rumah Mewahnya yang Baru Dihuni Muncul Banyak Retakan

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner